Kabupaten Kulon Progo: Sejarah
Nama Kulon Progo baru ada secara administratif pada tahun 1906 setelah menjadi wilayah asisten residen atau Afdeling dari pemerintah Kolonial Belanda. Wilayah yang saat ini disebut Kulon Progo awalnya merupakan wilayah Mataram Islam sepanjang sungai Progo dan sungai Bogowonto yang disebut sebagai Numbak Anyar, artinya tombak yang baru. Pada waktu Sultan Agung melakukan serangan ke Batavia pada 1628 dan 1629, banyak masyarakat di wilayah tersebut yang menjadi pasukan tambahan Sultan Agung.
Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755 sebagian wilayah Kulon Progo sebelah selatan disebut sebagai Negara Gading, terbentang dari Bogowonto sampai ke timur wilayah Bantul Karang. Di sini banyak tumbuh kelapa gading, dan kerap digunakan sebagai daerah berburu oleh para pangeran dari Kartasura. Sedangkan wilayah utara bernama Mataram Krajan, mulai dari Wates ke utara, timur sampai Sleman dan Kota Yogyakarta saat ini.
Pada 1813, B.P.H. Natakusuma diangkat menjadi Pakualam I, kemudian diberikan tanah lungguh di Negara Gading yang kemudian berubah menjadi nama Karang Kemuning. Di Utara masih bernama lokal seperti Kabupaten Pengasih, Nanggulan, Sentolo, dan Kalibawang pada 1855. Pada 1930-an kabupaten Pengasih, Nanggulan, Sentolo dan Kalibawang melebur menjadi satu Kabupaten yaitu Kulon Progo, kemudian Kabupaten Karang Kemuning berubah menjadi Adikarta pada 1877.
Daerah yang saat ini termasuk wilayah Kabupaten Kulon Progo hingga berakhirnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda merupakan wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kulon Progo yang merupakan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarta yang merupakan wilayah Kadipaten Pakualaman. Kedua kabupaten ini digabung administrasinya menjadi Kabupaten Kulon Progo pada tanggal 15 Oktober 1951.
Sebelum Perang Diponegoro di daerah Negaragung, termasuk di dalamnya wilayah Kulon Progo, belum ada pejabat pemerintahan yang menjabat di daerah sebagai penguasa. Pada waktu itu roda pemerintahan dijalankan oleh pepatih dalem yang berkedudukan di Ngayogyakarta Hadiningrat.
Setelah Perang Diponegoro 1825-1830 di wilayah Kulon Progo sekarang yang masuk wilayah Kasultanan terbentuk empat kabupaten yaitu:
Kabupaten Pengasih, tahun 1831
Kabupaten Sentolo, tahun 1831
Kabupaten Nanggulan, tahun 1851
Kabupaten Kalibawang, tahun 1855
Masing-masing kabupaten tersebut dipimpin oleh seorang tumenggung. Menurut buku Paprentahan Pradja Kejawen, pada tahun 1912, Kabupaten Pengasih, Sentolo, Nanggulan dan Kalibawang digabung menjadi satu dan diberi nama Kabupaten Kulon Progo, dengan ibu kota di Pengasih. Bupati pertama dijabat oleh R.T. Purbawinata.
Dalam perjalanannya, sejak 16 Februari 1927 Kabupaten Kulon Progo dibagi atas dua kawedanan dengan delapan kapanewon, sedangkan ibu kotanya dipindahkan ke Sentolo. Dua kawedanan tersebut adalah Kawedanan Pengasih yang meliputi Kapanewon Lendah, Sentolo, Pengasih dan Kokap/Sermo. Kawedanan Nanggulan meliputi Kapanewon Watumurah/Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh.
Berikut adalah daftar Bupati Kulon Progo sampai dengan tahun 1951 adalah sebagai berikut:
R.T. Purbawinata
K.R.T. Natapraja
K.R.T. Harjadiningrat
K.R.T. Jayadiningrat
K.R.T. Pringgadiningrat
K.R.T. Secadiningrat
K.R.T. Purwaningrat …