Heimatgeschichte · Kota Mataram ·

Kota Mataram: Sejarah

Kota Mataram: Sejarah

Dalam Babad Lombok, terdapat ekspedisi untuk menaklukkan wilayah Sunda Kecil. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig dan armadanya didukung puluhan kapal dengan 10 ribu pasukan berasal dari daerah di pulau Jawa seperti Mataram, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dan Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi.
Dari Mataram sendiri dipimpin seseorang yang disebut Patih Mentaram. Di Lombok, setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok. Salah satu peran penting patih Mataram mendapat tugas menaklukkan semua orang di utara gunung dari Samulya (saat ini Sambelia).
Sedangkan sebuah literatur dari Bali-Lombok menyebutkan, Setelah Kerajaan Karangasem mulai menguasai seluruh pulau Lombok mereka membangun ibukota kerajaannya di wilayah lombok barat, Kota Mataram dipercaya dibangun bersamaan dengan Pura Lingsar pada tahun 1714 oleh Raja Gusti Anglurah Karangasem. Sang raja mendirikan kota ini merujuk pada Kitab Lontar Tata Ruang Kota dari Bali seperti Lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi. Kerajaan Karangasem mulai menamai pemukiman-pemukiman daerah yang dibangunnya dengan nama kerajaan hindu yang pernah berjaya di Nusantara, seperti Mataram dan Singasari. Hal ini didukung dengan makna nama "Mataram" yang diterjemahkan sebagai hadiah untuk ibu pertiwi (merujuk pada Karangasem) sebagai tanah kelahiran raja-raja Karangasem-Lombok.
Setelah kematian Wakil Karangasem, Gusti Wayan Tegeh pada 1740, Lombok terpecah menjadi beberapa kepangeranan Bali, dua yang utama adalah Mataram-Karangasem dan Karangasem-Lombok atau dikenal sebagai Singasari-Karangasem, kedua kepangeranan sebenarnya masih dalam satu dinasti namun keinginan untuk menjadi penguasa tunggal di lombok menyebabkan terjadinya bibit perpecahan yang disusul pada perang suksesi pada 1838 Masehi yang dimenangkan oleh Kepangeranan Mataram kemudian menjadi Kerajaan Mataram-Karangasem sebagai penguasa tunggal di Tanah Lombok.
Beberapa tahun kemudian Raja Mataram kemudian memindahkan ibukota ke utara Mataram yang diberi nama Cakranegara (Cakra berarti pusat, jadi artinua Pusat Negara) dan membangun keratonnya yang bernama Puri Agung Cakranegara, karena ukiran kunonya yang khas, maka masyarakat sering menyebutnya sebagai Puri Agung Ukirkawi. Raja-raja Mataram dari Dinasti Karangasem dikenal sebagai penguasa yang toleran, kaya dan disegani, beliau juga melaksanakan sensus penduduk dengan meminta rakyat untuk mengumpulkan jarum, hal ini terbukti efektif untuk mencegah korupsi yang sempat terjadi dalam tubuh Kerajaan Mataram Lombok saat itu.
Setelah Kerajaan Mataram jatuh oleh pemerintah Hindia Belanda, yang dibayar mahal dengan tewasnya Jend. P.P.H. van Ham dan ratusan serdadu belanda (monumennya ada di Karang Jangkong), Cakranegara mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal berada di bawah Afdeling Bali-Lombok yang berpusat di Singaraja, Bali.
Pulau Lombok dalam pemerintahan dwitunggal terbagi menjadi 3 (tiga) onder afdeling, dari pihak kolonial sebagai wakil disebut kontrolir dan dari wilayah disebut Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sampai ke tingkat Kedistrikan. …

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kota Mataram“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: Rollan Budi from Vancouver, BC, Canada, CC BY-SA 2.0 – Wikimedia Commons