Kabupaten Sintang: Sejarah
=== Afdeling Sintang ===
Tahun 1600 Raja Sintang mengirim utusan ke Banjarmasin melewati jalur sungai Katingan untuk menyalin Kitab Suci Al-Quran. Kontrak tahun 1756, Sultan Tamjidullah I dari Banjarmasin dengan VOC-Belanda mendaftarkan Sintang dalam wilayah pengaruh Kesultanan Banjarmasin. Tanggal 1 Januari 1817 Raja Banjar Sultan Sulaiman menyerahkan Sintang kepada Belanda. Tahun 1823 kontrak Sultan Sintang dengan Hindia Belanda. Tanggal 4 Mei 1826, Sultan Adam dari Banjarmasin menyerahkan Sintang kepada Hindia Belanda. Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8. Kabupaten Sintang dihuni 34 sub suku Dayak.
Islam masuk ke Sintang pada tahun 1778 dibawa oleh seorang ulama berasal dari Aceh bernama Penghulu Abbas dan seorang lagi berasal dari Minangkabau bernama Sutan Nata gelar Raja Dengki . Kedatangan Islam perlahan membuat sebagian pembesar kerajaan yang beragama Hindu beralig memeluk Islam hingga akhirnya menjadi agama kerajaan.