Heimatgeschichte · Belu ·

Kabupaten Belu: Sejarah

Kabupaten Belu: Sejarah

=== Masa Prasejarah ===
Umumnya penduduk Kabupaten Belu berasal dari ras Melayu Tua (Proto Melayu), ras yang diyakini lebih tua dan lebih awal mendiami Pulau Timor. Selain Ras Melayu Tua, terdapat juga ras Melayu Muda (Deutero Melayu) dan Asia (Cina). Baik ras Proto Melayu, Deutero Melayu dan Asia, telah berbaur dan telah terikat dalam sistem kawin-mawin, sejak beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun silam. Di Kota Atambua, juga beberapa kampung kecil seperti Atapupu, Lahurus, Wedomu, Haekesak, Weluli, Halilulik, terdapat juga sejumlah kecil penduduk yang berasal dari luar Kabupaten Belu, entah dari Pulau Timor sendiri, ataupun dari luar Pulau Timor. Penutur adat Kabupaten Belu, yang dijuluki gelar Mako’an, menuturkan bahwa konon Pulau Timor ini belum muncul ke permukaan. Semua masih ditutupi air. Hal itu dibayangkan dengan Zaman es (atau Zaman Glasial) yang terjadi sekitar 500 atau 600 ribu tahun silam.

Konon, seluruh permukaan bumi tertutup air, termasuk di Timor. Namun pada suatu ketika, di Timor, muncullah sebuah titik, yang ternyata itu adalah puncak tertinggi dari keseluruhan Pulau Timor kelak. Titik kecil itu muncul dan bersinar sendiri. Orang di generasi sesudahnya menggambarkan kembali titik bumi yang muncul itu dengan sapaan adat: Fo’in Nu’u Manu Matan (baru seperti biji mata ayam), Foin Nu’u Bua Klau (baru seperti potongan sebelah pinang), Foin Nu’u Etu Kumun (baru seperti gumpalan nasi di tangan), dan Foin Nu’u Murak Husar (baru sebesar pusar mata uang). Titik kecil itulah yang kelak dikenal dengan Gunung Lakaan sekarang, sebagai puncak tertinggi di Kabupaten Belu. Oleh karenanya, tidaklah heran kalau Orang Belu menjuluki puncak itu dengan nama Foho Laka An (gunung yang memiliki cahara sendiri), Manu Aman Laka An (ayam jantan merah bercahaya sendiri), Sa Mane Mesak (seperti lelaki tunggal), atau Baudinik Mesak (seperti bintang tunggal).
Dan di puncak Gunung Lakaan ini pula, diyakini oleh masyarakat Kabupaten Belu, lahirlah Manusia Pertama Belu. Sebenarnya ada nama yang dikenakan kepada Leluhur Pertama Orang Belu yang pertama kali hidup di Puncak Gunung Lakaan. Manusia pertama di Belu ternyata seorang Puteri Cantik.

Menurut cerita orang tua-tua di Belu, pada zaman dahulu kala, seluruh Pulau Timor masih digenangi air, kecuali puncak Gunung Lakaan. Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak gunung Lakaan dan tinggallah ia di sana. Putri dewata itu bernama Laka Loro Kmesak yang dalam bahasa Belu berarti Putri tunggal yang tidak berasal usul. Laka Loro Kmesak adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktiaannya. Karena kesaktiannya yang luar biasa itu, maka Laka Loro Kmesak dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah dikenal orang.
Para Mako’an Belu mengatakan bahwa “Suami” atau “Leluhur Lelaki” yang tidak dikenal itu, yang “menghampiri” Leluhur Perempuan (Laka Loro Kmesak), kelak lebih dijuluki dengan Gelar Manu Ama Lakaan Na’in, artinya Tuan dari Puncak Jago Lakaan. Karena kerahasiaan itu tetap terjaga sampai tidak disebutkan Nama, maka Laka Loro Kmesak disebut pula dengan nama Na’in Bilak An yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.
Beberapa tahun kemudian Putri Laka Loro Kmesak berturut-turut melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya diberi nama masing-masing, Atok Lakaan dan Taek Lakaan. Sedangkan kedua putrinya masing-masing diberi nama Elok Loa Lorok dan Balok Loa Lorok. …

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kabupaten Belu“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: Eko hadi prasetiyo, CC BY-SA 4.0 – Wikimedia Commons