Kabupaten Dogiyai: Sejarah
Jarak yang jauh dari ibukota Nabire dengan akses yang sulit karena berada di pegunungan melatarbelakangi ide untuk membentuk kabupaten baru di bagian paling selatan Nabire. Terbentuknya kabupaten baru diharapkan mampu mendorong peningkatan pelayanan dalam bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta dapat memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah. Tokoh-tokoh masyarakat adat kemudian membentuk tim aspirator untuk menjaring aspirasi masyarakat. Perjuangannya berliku-liku dengan ada pro dan kontra dari kalangan masyarakat. Misalnya dalam pemberian nama dan penentuan ibukota.
Pada awalnya nama kabupaten Dogiyai disebut sebagai kabupaten Lembah Hijau dengan ibukotanya Moanemani. Nama dan ibukota tidak disetujui oleh orang Mapia yang menganggap rencana kabupaten ini hanya diperuntukkan untuk orang Kamu. Akhirnya dalam rapat berikutnya disetujui ibukota terletak di tengah-tengah sehingga distrik Kigamani dipilih, sedangkan nama kabupaten diambil dari salah satu gunung. Gunung Dogiyai dipilih karena berada di perbatasan wilayah Kamu dan Mapia. Dogiyai menurut adat setempat juga merupakan panah beracun yang paling teratas stratanya dari jenis panah yang lain.
Sering terjadi kericuhan antar masyarakat yang menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa. Insiden yang terjadi antara lain pembakaran lebih dari 30 rumah di ibukota Dogiyai pada Mei 2022, pemalakan terhadap supir truk pada Januari 2023 yang berujung pembakaran sejumlah kios, pembakaran gedung DPRD Dogiyai pada Maret 2023, serta pembakaran 69 unit bangunan di Dogiyai pada Juli 2023 setelah terjadi penghadangan terhadap konvoi Brimob.