Heimatgeschichte · Kota Tidore Kepulauan ·

Kota Tidore Kepulauan: Sejarah

Kota Tidore Kepulauan: Sejarah

Kota ini sudah terkenal sejak zaman penjajahan dahulu karena cengkih dan pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol yang sampai ke Tidore tahun 1512. Kota ini juga sempat menjadi ibu kota provinsi perjuangan Irian Barat. Gubernur pertamanya adalah Zainal Abidin Syah yang juga Sultan Tidore.
Kota Tidore Kepulauan memiliki sejarah panjang perjalanan pemerintahan yang berakar dari sistem ketatanegaraan Kesultanan yang telah dimulai sejak fase pemerintahan “Kolano se i rayat” (penguasa bersama rakyat) hingga sistem pemerintahan “Kolano se ibobato Dunya se Akhirat” (Sultan bersama staf urusan dunia/pemerintahan dan urusan akhirat/agama) yang telah berlangsung sejak kurang lebih 700 tahun lalu.
Sejak zaman Sultan Syaifuddin atau Jou Kota, sistem pemerintahan dibagi atas dua bagian, yakni:

Pemerintahan Pusat Kesultanan, sebagai Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Ibu Kota Soasio yang dikepalai oleh Sultan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
Pemerintahan Wilayah Kesultanan yang terdiri atas wilayah-wilayah yang berada luar aktivitas pemerintahan pusat kesultanan dan disebut “Nyili-nyili” yang dapat disamakan dengan wilayah provinsi kerajaan. “Nyili-nyili” tersebut meliputi “Nyili Seba-seba yang mencakup pulau Tidore dan Halmahera bagian barat yaitu Oba Utara, Oba Tengah, Oba, dan Oba Selatan, “Nyili lofo-lofo” yang meliputi Wasile Maba, Weda, Patani, dan Gebe, serta “Nyili Gulu-gulu” yang mencakup kepulauan Raja Ampat, Papua Gam Sio (Sembilan Negeri di Papua) se Ma for Soa Raha, termasuk Seram Timur, Kei dan Aru atau pulau-pulau tenggara jauh.
Sejarah mencatat bahwa Tidore pada masa lampau merupakan kota bandar internasional yang menjadi salah satu pusat kawasan rempah dunia bersama Ternate, Moti, Bacan dan lainnya yang secara internasional dikenal sebaga Dunia Maluku. Tidore sebagai bagian dari kepulauan Maluku pada saat itu menjadi titik temu dan perkenalan nusantara dengan dunia luar. Perdagangan rempah-rempah telah menempatkan kepulauan Maluku sebagai bandar niaga penting dunia yang telah tercatat sejak periode Dinasti Tang pada abad ke-7 (618-907 M).
Tidore juga melahirkan tokoh-tokoh besar yang berdedikasi dan kontribusinya dalam pentas sejarah Indonesia, seperti Sultan Malikiddin Mansyur Kaicil Maluku, Sultan Syaifuddin Iskandar Zulkarnain atau Jou Kota. Pahlawan yang paling terkenal secara nasional adalah Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan atau dikenal dengan Sultan Nuku (1738 – 1805), yang mana sejarah perlawanannya terhadap Belanda telah diakui, sehingga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Selain itu, ada Sultan Ahmadul Mansyur Sirajuddin yang menjadi salah satu peletak dasar gagasan toleransi antar umat beragama dengan mengirimkan beberapa bobato (Menteri) Kesultanan Tidore untuk mendampingi perjalanan Otto-Geisller dari Misi Jesuit untuk misi Perkabaran Injil di tanah Papua (Mansinam/Manokwari).
Setelah Papua masuk ke wilayah Republik Indonesia, statusnya berubah menjadi ibu kota daerah administratif Halmahera tengah dengan ibu kota Soasio. Tahun 1990, status daerah administratif berubah menjadi Kabupaten Halmahera Tengah. Pada tahun 2003, Tidore menjadi kota dengan nomenklaturnya Kota Tidore Kepulauan, dengan penjabat wali kota pertama adalah Drs. M. Nur Djauhari dan penjabat wali kota kedua adalah Drs. Mahmud Adrias.

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kota Tidore Kepulauan“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: exploreplants, CC BY-SA 2.0 – Wikimedia Commons