Ngawi, Ngawi: Sejarah
=== Etimologi ===
Ngawi berasal dari kata “awi” yang artinya bambu kemudian mendapat tambahan huruf sengau “ng” di depan huruf awi untuk mempermudah dalam pengucapannya sehingga pada awalnya adalah nama awi yang dipakai lalu menjadi “ngawi”. Seperti halnya dengan nama di daerah lain yang banyak menggunakan nama-nama tumbuhan. Sama halnya seperti Kecamatan Ngawi yang letak fisiknya dilewati oleh sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi pohon bambu.
Pada zaman dahulu Ngawi berasal dari kata awi/bambu dan sekaligus menunjukkan lokasi Ngawi sebagai kecamatan di bantaran sungai Bengawan Solo. Berdasarkan penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktivitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga yang masih bertahan hingga masa akhir pemerintahan Kerajaan Majapahit..
Hal ini diperkuat dengan beberapa prasasti, salah satunya adalah Prasasti Cangu yang merupakan peninggalan Raja Hayamwuruk (Sri Rajasanegara) dari Majapahit yang berangka tahun Saka 1280 (1358) yang menyebutkan bahwa Ngawi merupakan daerah swastantra. Fragmen-fragmen percandian menunjukkan sifat kesiwaan yang erat hubungannya dengan pemujaan Gunung Lawu (Girindra), tetapi dalam perjalanan selanjutnya terjadi pergeseran oleh pengaruh masuknya Agama Islam serta kebudayaan yang dibawa Bangsa Eropa khususnya Belanda yang cukup lama menguasai pemerintahan di Indonesia.
Peninggalan lain adalah berupa benteng Van den Bosch. Sekarang dinamakan benteng Pendem dikarenakan lokasi benteng tersebut letaknya di bawah tanah sehingga tidak terlihat dari luar. Adapun letaknya di sudut pertemuan di antara 2 sungai Bengawan Solo dan Madiun.
Benteng Van Den Bosch dibangun antara tahun 1839-1845 oleh pemerintah Hindia Belanda, di mana pada waktu itu Ngawi mempunyai kedudukan penting dalam bidang transportasi. Dengan peranan yang cukup penting pada masa lalu, sehingga Ngawi dapat bertahan dan berkembang menjadi sebuah kecamatan bahkan cikal bakal dari kabupaten itu sendiri. Disamping itu, Ngawi sejak zaman prasejarah mempunyai peranan penting dalam lalu lintas memiliki posisi Geostrategis yang sangat penting.
Benteng Van den Bosh secara administratif terletak di wilayah Keluharan Pelem, Kecamatan Ngawi, Ngawi, Jawa Timur. Benteng ini diketahui dibangun pada pertengahan abad ke-19. Alasan Pemerintah kolonial Belanda membangun Benteng Van den Bosch ini berawal ketika Ngawi berhasil diduduki Belanda pada tahun 1825. Ngawi dikala itu dikenal sebagai pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur melalui sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun dan menjadi salah satu pintu gerbang menuju kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Pemerintah kolonial Belanda menginginkan kedudukan dan fungsi strategis Ngawi serta menguasai jalur perdagangan trans Jawa kala itu. Oleh sebab itu, akhirnya Belanda memutuskan untuk mendirikan sebuah bangunan pemerintahan yang berwujud benteng akhirnya dinamai Benteng Van den Bosch. Pemerintah kolonial Belanda menggunakan benteng ini sebagai perlindungan ketika melawan perjuangan Pangeran Diponegoro. Di benteng ini terdapat makam K.H Muhammad Nursalim, seorang ulama terkemuka yang juga merupakan pejuang dan pendamping Pangeran Diponegoro. Lalu ia ditangkap Belanda kemudian dipenjara dan dikubur hidup-hidup. Kyai Muhammad Nursalim juga dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam pertama kali di Ngawi.