Heimatgeschichte · Bojonegoro ·

Kabupaten Bojonegoro: Sejarah

Kabupaten Bojonegoro: Sejarah

Bojonegoro merupakan Lembah Kendeng dan lintasan Sungai Bengawan yang selalu punya peran historis hampir di setiap zaman. Dari zaman Kuno, Hindu-Budha, maupun zaman Islam. Sebagai kawasan yang mendominasi aliran air terpanjang di Pulau Jawa, Sungai Bengawan, Bojonegoro merupakan wilayah penting hampir di setiap zaman.
Pada zaman Prasejarah, Lembah Kendeng yang diberkahi kandungan minyak bumi ini, sudah menjadi pusat peradaban manusia. Terbukti dari banyaknya titik megalitikum yang berada di tiap bukit Pegunungan Kendeng dan bantaran sungai Bengawan di Bojonegoro. Banyaknya fosil kayu dan hewan purba berusia Plistosen Atas yang kini disimpan di sejumlah museum, juga jadi bukti otentik yang mendukung besarnya peradaban kuno di Bojonegoro.
Pada zaman Kuno, khususnya pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung Kerajaan Medang, wilayah Bojonegoro dikenal sebagai pusat peradaban maritim sungai. Data ilmiah yang bisa dijadikan acuan adalah Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung.
Pada Prasasti Telang, disebutkan sejumlah titik-titik penting seperti tanah Sotasrungga yang dimuliakan Raja Dyah Balitung. Selain itu juga kawasan peradaban sungai bernama Telang yang memiliki entitas alam minyak bumi. Sementara pada Prasasti Sangsang, dijelaskan titik-titik penting seperti Pagerwesi dan Sima Punpunan. Semua kawasan di atas, disebut sebagai kawasan peradaban sungai yang dipenuhi para pedagang dan peternak. Kedua Prasasti juga menyebut kawasan tersebut memiliki entitas alam berupa minyak bumi.
Pada abad 13 M, Bojonegoro masih dikenal dengan nama Jipang. Wilayahnya meliputi Bojonegoro saat ini, bagian selatan Blora, dan bagian selatan Tuban. Teritorial Jipang dialiri sungai Bengawan dan dipagari Bukit Kendeng. Jipang sudah ada sejak era Kerajaan Singashari. Ini tercatat empiris dalam Prasasti Maribong (1246 M) yang dikeluarkan Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singashari.
Dalam Prasasti Maribong (1246 M), disebutkan bahwa wilayah bernama Maribong (sekarang Dusun Merbong, Desa Payaman, Bojonegoro), yang merupakan bagian dari Tlatah Jipang, dijadikan tanah perdikan khusus peribadatan Para Brahmana (Begawan). Anugerah ini karena Para Begawan Jipang punya jasa besar bagi Raja Ken Arok (pendiri Singashari).
Jasa besar para Begawan Jipang bagi Raja Ken Arok adalah, membantu menyatukan kembali Pulau Jawa, setelah sebelumnya terpisah menjadi dua, Jenggala (Peradaban Pesisir) dan Panjalu (Peradaban Pegunungan). Berkat penyatuan Pulau Jawa yang dilakukan Para Begawan Jipang itulah, Kemaharajaan Singashari (Tumapel) bisa berdiri. Ini menjadi dasar Raja Wisnuwardhana menjadikan Jipang sebagai Tanah Para Brahmana.
Pada masa yang lebih belakangan, yaitu zaman Kerajaan Majapahit, kawasan Bojonegoro juga dikenal sebagai pusat peradaban. Terbukti, mayoritas Raja Majapahit, secara empiris, meninggalkan jejak penghormatan berupa prasasti. Dari Prasasti Adan-adan (1301 M) yang ditulis pendiri Majapahit, Raden Wijaya; Prasasti Naditira Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk; hingga Prasasti Pamintihan (1473 M) yang ditulis Raja Suraprabhawa Pandansalas.
Secara umum, Lembah Kendeng yang kini dikenal dengan nama Bojonegoro ini, dibahas dan disinggung pada sejumlah Prasasti secara tertib dan urut, hampir di setiap era kemaharajaan Jawa. Di antaranya;
1. Prasasti Telang (903 M), yang dirilis zaman Dyah Balitung Kerajaan Medang
2. …

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kabupaten Bojonegoro“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: Pangeran Kurchilds, CC BY 4.0 – Wikimedia Commons