Kabupaten Lamongan: Sejarah
=== Sejarah awal ===
HUT Kabupaten Lamongan diperingati setiap tanggal 26 Mei 1569 M. Tanggal ini didapatkan dengan mengonversi tanggal 10 Dzulhijjah 976 H yang menjadi tanggal diangkatnya Rangga Hadi atau Mbah Lamong sebagai adipati Lamongan pertama. Mbah Lamong adalah santri dari Sunan Giri yang mendapatkan kepercayaan untuk menyebarkan Agama Islam di barat Kasunanan Giri (Gresik). Beliau dianggap sukses dalam berdakwah dan pemukiman yang didirikannya berkembang pesat. Pada masa Sunan Giri IV (Sunan Prapen), wilayah Lamongan diangkat statusnya menjadi kadipaten dan Mbah Lamong dipercaya sebagai adipati dengan gelar Tumenggung Surajaya. Sedangkan di Lamongan bagian utara juga muncul tokoh penting lain yaitu Sunan Drajat yang menyebarkan Islam di wilayah Paciran.
Lamongan pada abad ke-17 merupakan sekutu dari Surabaya untuk melawan Kesultanan Mataram yang saat itu sedang melakukan ekspansi besar-besaran dengan menguasai kota-kota di pesisir utara Jawa. Pada akhirnya Lamongan jatuh ke tangan pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Mertoloyo pada tahun 1612, dan disusul dengan jatuhnya Surabaya pada tahun 1625. Selanjutnya, pada abad ke-18 Kesultanan Mataram menyerahkan Lamongan ke VOC. Pada tahun 1936, Kabupaten Lamongan mencakup beberapa kawedanan atau daerah pembantu bupati yaitu Kawedanan Lamongan, Paciran, Karangbinangun, Sukodadi, Babat, dan Ngimbang.
Setelah Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi garis depan melawan tentara kependudukan Belanda.
Pada tanggal 20 Desember 1948 pukul 15.00, terjadi serbuan atas kota Babat oleh Pasukan Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps) yang datang dari Tuban. Kota Babat termasuk jembatan Cincim jatuh ke tangan Belanda tanpa ada perlawanan sama sekali. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “dosa komandan Batalyon Halik”.
Mendengar berita penyerbuan tersebut, Komando Batalyon Sunaryadi segera menempatkan kompi Dullasim di desa Belo, Plosowahyu dan desa Made untuk menghadapi Belanda dari Babat. Brigade Marinir Belanda ternyata tidak langsung menyerang kota Lamongan dari kota Babat, melainkan bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama kota Kertosono.
Di selatan Lamongan, yakni di daerah antara Gunung Pegat sampai ke Ngimbang mereka menghadapi perlawanan sengit tentara Republik. Di jalur ini tentara Belanda harus berhadapan dengan Kompi Dihar dari Batalyon Basuki Rachmat, Batalyon Jarot Subiyantoro dan Kompi Jansen Rambe.
Tanggal 2 Januari 1949, Kedungpring mendapat giliran serangan. Selanjutnya, pasukan bergerak ke Modo, Bluluk, Ngimbang, Sambeng dan Mantup. Di desa Mantup dan desa Nogojatisari (Kecamatan Sambeng), markas Batalyon Jarot dan dapur umum untuk melayani pasukan dibombardir oleh Belanda, sehingga pasukan Republik mundur ke arah barat. Setelah daerah-daerah tersebut sepenuhnya dikuasai, tentara Belanda dipecah menjadi dua, yakni sebagian lewat Kembangbahu kemudian bertemu dengan pasukan induk dari Mantup untuk menyerang Tikung lebih dahulu.
Kompi Sunaryo mengeluarkan satu seksi yang dipimpin oleh Letda Untung untuk mengadakan penghadangan di desa Modo. Pertempuran tidak bisa dielakkan antara tentara Belanda dan pasukan Untung. Karena tentara Belanda memiliki kekuatan yang lebih besar, akhirnya seksi mundur dengan membawa korban dua orang. …