Kota Bekasi: Sejarah
=== Era Kerajaan Tarumanagara ===
Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dahulu sebagai ibu kota Kerajaan Tarumanagara. Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa (Jakarta), Pasir Awi (Jonggol), Depok, Cibinong, Bogor, hingga ke wilayah Purwalingga.
Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai ibu kota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang. Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669–723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567–1579 M).
memberikan informasi atau menyimpan bukti sejarah.tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Di antaranya dengan ditemukannya 4 prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jaya Dewa) yang ditulis dalam 5 lembar lempeng tembaga.
Sejak abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, abad ke-8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).
Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari zaman ke zaman, sejak zaman Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan, dan zaman Republik Indonesia. Pada zaman Hindia Belanda, Bekasi termasuk ke dalam Karesidenan Batavia dan termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis.
Perkembangan kota Bekasi bermula dari sebuah tanah partikelir (land) yang dikuasai oleh Jeremias van Riemsdijk. Riemsdijk, yang kemudian menjadi Gubenur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1775-1777, memiliki lahan yang cukup luas di sekitar Batavia, yang meliputi land Ancol, Babelan, serta Bekasi. Pada tahun 1752 ia mendirikan pasar di sebelah timur Kali Bekasi yang mana hanya buka di hari Sabtu (kini Pasar Proyek). Pasar ini sebagai tempat jual beli hasil-hasil pertanian yang dikumpulkan dari kawasan pedalaman. Selain pasar sebagai tempat berdagang, ia juga mendirikan landhuis, landraad, kantor polisi dan penjara, serta membangun lapangan besar (kini menjadi Alun-alun Kota Bekasi).
Pada tahun 1831, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur darat yang menghubungkan Meester Cornelis dengan Bekasi via Pulo Gadung. Jalur ini membuka akses perdagangan dari Bekasi ke Batavia yang sebelumnya hanya melalui Kali Bekasi. Dari Pasar Bekasi dibangun pula jalan yang menghubungkan Cikarang (timur), Cileungsi (selatan), serta Babelan (utara). Pada tahun 1887, pemerintah juga membangun jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Batavia dengan Bekasi. Jalur ini terus bertambah hingga ke Cirebon pada tahun 1912. Dengan dibangunnya jalur-jalur tersebut, banyak investor yang kemudian menanamkan modalnya di Bekasi. Tanah partikelir yang sebelumnya dikuasai oleh keluarga Riemsdijk, berubah menjadi land-land kecil yang dikuasai oleh pengusaha pribumi dan Tionghoa.
Kondisi ini terus berlanjut hingga pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut mengubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran, dan Gun Matraman. …