Heimatgeschichte · Cianjur ·

Kabupaten Cianjur: Sejarah

Kabupaten Cianjur: Sejarah

Catatan tertua tentang nama Cianjur muncul dalam Register Harian (Dagh Register) Kastil Batavia pada masa VOC, tertanggal 20 Januari 1678. Namun demikian nama yang tertulis adalah "Santoir" beserta dengan "Simapack". Para sejarwan menafsirkan bahwa kedua nama tempat tersebut berasosiasi atau merupakan pelafalan Belanda dari wilayah yang dibatasi dengan sungai Cianjur dan Cimapag.
Sejarah perkembangan Cianjur tak lepas dari jasa Raden Jayasasana, putra Aria Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga (sekarang Majalengka selatan) dan masih keturunan Sunan Talaga. Di abad ke-17, ia membawa 100 cacah (rakyat) yang ditugaskan oleh Sultan Sepuh I dari Cirebon untuk membuka wilayah baru yang bernama Cikundul (sekarang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Cikalongkulon). Dikarenakan Cirebon saat itu merupakan vasal dari Mataram, Jayasasana ditugaskan menjaga wilayah barunya dari kemungkinan serbuan Banten yang bermusuhan dengan Mataram. Ia kemudian berhasil menahan serangan Banten terhadap mempertahankan wilayahnya sehingga ia dianugerahi gelar panglima Wira Tanu. Sehingga Jayasasana akhirnya dikenal dengan gelar Raden Aria Wira Tanu. Sementara itu Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang (berarti lautan jernih) di Subang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu nagari tempat pemukiman rakyat Jayasasana.
Setelah Jayasasana atau Aria Wira Tanu I wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh anaknya Wira Tanu II, yang memindahkan pusat nagari ke daerah Pamoyanan (kecamatan Cianjur), di mana pusat nagari ini mulai tahun 1680 disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer), yang namanya berasal dari sungai Ci Anjur yang membelah daerah ini.

Di sisi lain ada sebuah kisah yang dianggap legenda tentang asal-usul kota Cianjur, yaitu kisah Pak Kikir yang menolak untuk memberikan sedekah kepada seorang nenek tua. Akibatnya, sang Kakek terkena karma hingga seluruh kampung dan hartanya tenggelam. Namun, narasi tersebut tampaknya ditolak oleh para pemerhati sejarah dan budayawan dari Cianjur seperti dikemukakan oleh Aom Pepet (Keturunan Dalem Cikundul), Tatang Setiadi, Luki Muharam, dan Aki Dadan, karena kisah itu tidak pernah ada dalam ingatan kolektif masyarakat Cianjur.
Alih-alih legenda, kisah tersebut ternyata merupakan karangan baru (kontemporer) yang dibuat pada sekitar tahun 2007-2010 sebagai modifikasi dari kisah Situ Bagendit (berupa cekungan dengan danau kecil) di Kabupaten Garut untuk materi lomba dongeng tingkat sekolah dasar yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. Modifikasi kisah Situ Bagendit menjadi legenda asal mula Cianjur dilakukan oleh seorang guru SD, sehingga bukan merupakan cerita rakyat lama atau legenda, serta tidak merepresentasikan budaya dan kondisi geografis kota Cianjur (berupa lahan miring dengan sungai besar).

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kabupaten Cianjur“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: mujtahid, CC BY 3.0 – Wikimedia Commons