Heimatgeschichte · Kota Medan ·

Kota Medan: Sejarah

Kota Medan: Sejarah

Nama Kota Medan berasal dari kata dalam bahasa Melayu, tetapi kata "medan" dalam bahasa Melayu sendiri kemungkinan merupakan serapan dari bahasa Persia yaitu meydān (میدان) yang berarti "lapangan", "tanah terbuka", atau "alun-alun". Dalam Kamus Indonesia-Batak Karo (2002) yang ditulis Darwin Prinst, kata 'medan' (ᯔᯩᯑᯉ᯲) berarti 'menjadi sehat' atau 'lebih baik.'
Hari jadi Kota Medan diperingati tiap tahun sejak tahun 1970 yang pada mulanya ditetapkan pada 1 April 1909. Tanggal ini kemudian mendapat bantahan yang cukup keras dari kalangan pers dan beberapa ahli sejarah. Karena itu, wali kota membentuk panitia sejarah hari jadi Kota Medan untuk melakukan penelitian dan penyelidikan. Surat Keputusan Wali Kotamadya Kepala Daerah Kotamadya Medan No. 342 Tanggal 25 Mei 1971 yang waktu itu dijabat oleh Drs. Sjoerkani membentuk Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Medan. Duduk sebagai ketua adalah Prof. Mahadi, SH, Sekretaris Syahruddin Siwan, MA, anggotanya antara lain Ny. Mariam Darus, SH, dan T. Luckman, SH. Untuk lebih mengintensifkan kegiatan kepanitiaan ini dikeluarkan lagi Surat Keputusan Wali Kotamadya Kepala Daerah Kotamadya Medan No.618 Tanggal 28 Oktober 1971 tentang Pembentukan Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan dengan ketuanya Prof. Mahadi, SH, Sekretaris Syahruddin Siwan, MA, dan anggotanya H. Mohammad Said, Dada Meuraxa, Letkol. Nas Sebayang, Nasir Tim Sutannaga, M. Solly Lubis, SH, Drs. Payung Bangun, MA, dan R. Muslim Akbar. DPRD Medan sepenuhnya mendukung kegiatan kepanitiaan ini sehingga merekapun membentuk Pansus dengan ketua M.A. Harahap, beranggotakan antara lain Drs. M. Hasan Ginting, Djanius Djamin, Badar Kamil, BA dan Mas Sutarjo.
Dalam buku The History of Medan tulisan Tengku Luckman Sinar (1991), dituliskan bahwa menurut "Hikayat Aceh", Medan sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590, dan sempat dihancurkan selama serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil kepada Raja Haru yang berkuasa di situ. Serangan serupa dilakukan Sultan Iskandar Muda tahun 1613, terhadap Kesultanan Deli. Sejak akhir abad ke-16, nama Haru berubah menjadi Ghuri, dan akhirnya pada awal abad ke-17 menjadi Deli. Pertempuran terus-menerus antara Haru dengan Aceh mengakibatkan penduduk Haru jauh berkurang. Sebagai daerah taklukan, banyak warganya yang dipindahkan ke Aceh untuk dijadikan pekerja kasar.
Selain dengan Aceh, Kerajaan Haru yang makmur ini juga tercatat sering terlibat pertempuran dengan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaka dan juga dengan kerajaan dari Jawa. Serangan dari Pulau Jawa ini antara lain tercatat dalam kitab Pararaton yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca juga menuliskan bahwa selain Pane (Panai), Majapahit juga menaklukkan Kampe (Kampai) dan Harw (Haru). Berkurangnya penduduk daerah pantai timur Sumatra akibat berbagai perang ini, lalu diikuti dengan mulai mengalirnya etnis-etnis dari dataran tinggi pedalaman turun ke pesisir pantai timur Sumatra. Etnis Batak Karo bermigrasi ke daerah pantai Langkat, Serdang, dan Deli. Etnis Batak Simalungun ke daerah pantai Batu Bara dan Asahan, serta etnis Batak Mandailing ke daerah Pantai Kualuh, Kotapinang, Panai, dan Bilah di Labuhanbatu.
Dalam Riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya ditulis dalam huruf Batak Karo pada rangkaian bilah bambu, tercatat Guru Patimpus Sembiring Pelawi, tokoh masyarakat Batak Karo, sebagai orang yang pertama kali membuka "desa" yang diberi nama Medan. …

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kota Medan“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0 · Foto: Stonegagle, CC BY-SA 3.0 – Wikimedia Commons