Heimatgeschichte · Banjarnegara ·

Kabupaten Banjarnegara: Sejarah

Kabupaten Banjarnegara: Sejarah

Wilayah yang menjadi Kabupaten Banjarnegara telah dihuni oleh suku Jawa sejak masa lampau. Peninggalan peradabannya sudah ada sejak abad ke-8, hal ini ditandai dengan ditemukanya Percandian Dieng yang dibangun pada akhir abad ke-8 oleh Kerajaan Medang sekaligus merupakan percandian tertua milik suku jawa. Selain candi, terdapat pula prasasti seperti Prasasti Er Hangat dan Prasasti Mangulihi yang menunjukkan pentingnya wilayah Banjarnegara pada masa lampau. Kemungkinan wilayah Banjarnegara, khususnya wilayah Dieng merupakan salah satu pusat budaya dari Suku Jawa pada masa lampau.
Dalam perang Diponegoro, R.Tumenggung Dipoyudo IV berjasa kepada pemerintah Kasunanan Mataram Surakarta, sehingga di usulkan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII untuk di tetapkan menjadi bupati banjar berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, untuk mengisi jabatan Bupati Banjar yang telah dihapus statusnya, berkedudukan di Banjarmangu dan dikenal dengan Banjarwatulembu. Usul tersebut disetujui.
Persoalan meluapnya Sungai Serayu menjadi kendala yang menyulitkan komunikasi dengan Kasunanan Surakarta. Kesulitan ini dirasakan menjadi beban bagi bupati ketika dia harus menghadiri Pasewakan Agung pada saat-saat tertentu di Kasunanan Surakarta. Untuk mengatasi masalah ini diputuskan untuk memindahkan ibu kota kabupaten ke selatan Sungai Serayu.
Daerah Banjar (sekarang Kota Banjarnegara) menjadi pilihan untuk ditetapkan sebagai ibu kota yang baru. Kondisi daerah yang baru ini merupakan persawahan yang luas dengan beberapa lereng yang curam. Di daerah persawahan (Banjar) inilah didirikan ibu kota kabupaten (Negara) yang baru sehingga nama daerah ini menjadi Banjarnegara (Banjar: Sawah, Negara: Kota).

von Fremdinhalte · Regionauts

Quelle: Text: Wikipedia – „Kabupaten Banjarnegara“, Autorinnen und Autoren (Versionsgeschichte), CC BY-SA 4.0